Jelang Rapat Anggota Tahunan (RAT) CU Lantang Tipo Tahun Buku 2018 Tantangan Credit Union di Era Milenial Mempersiapkan Masa Depan dengan menabung di CU Lantang Tipo Kori Karolina: Tidak salah jika menabung, tetapi meminjam untuk usaha jauh lebih berguna Sura: Menjadi anggota karena ingin menyiapkan masa depan
 
Tantangan Credit Union di Era Milenial
Jumat, 4 Januari 2019 | 13:52

Kata Credit Union atau CU bagi sebagian besar orang di Indonesia masih terdengar asing. Namun tidak demikian bagi masyarakat di Kalimantan Barat, terutama yang berada di daerah pedalaman. CU sudah menjadi penolong hidup mereka, menjadi alat pemberdayaan sosial, ekonomi untuk menuju kehidupan yang lebih baik. Sejak berdiri pada tahun 1976, CU Lantang Tipo terus menunjukkan perkembangannya di Kalimantan Barat. Kini anggotanya per November 2018 berjumlah 192.588 orang yang tersebar di 51 Kantor Cabang CU Lantang Tipo. Total aset CU Lantang Tipo saat ini berjumlah Rp2,9 Triliun. Perlu diketahui bersama bahwa aset yang dimiliki tersebut tidak diperoleh dalam waktu yang singkat. Aset itu dikumpulkan sedikit demi sedikit oleh anggota sejak CU Lantang Tipo mulai berdiri. Pada awal berdirinya, CU Lantang Tipo hanya diminati oleh sebagian kecil masyarakat. Hal itu karena masyarakat merasa CU seperti koperasi yang mereka kenal saat itu. Namun CU membawa perubahan. CU bukan seperti koperasi yang mereka kenal sebelumnya. Pendiri CU, Fredrich Wilhelm Raiffeisen, mengajarkan tiga prinsip dasar CU, yakni simpanan hanya boleh dari anggota. Pinjaman hanya boleh diberikan kepada anggota dan jaminan peminjam adalah watak si peminjam. CU menjalankan prinsip “Menolong orang agar dapat menolong dirinya sendiri untuk meningkatkan kualitas hidupnya”. Prinsip inilah yang secara konsisten diterapkan CU dalam kehidupan sehari-hari. Dalam konsep CU, orang miskin itu hanya dapat ditolong oleh dirinya sendiri. Melalui prinsip CU tersebut masyarakat kemudian menyadari akan pentingnya ber-CU. Masyarakat kemudian merasakan bahwa CU hadir memberikan kebaikan untuk membantu anggota. Kebaikan yang CU berikan tersebut pada akhirnya membesarkan nama CU khususnya CU Lantang Tipo. Masyarakat semakin mengenal dan percaya bahwa CU dapat mensejahterakan hidup mereka. Seiring dengan perkembangannya, CU Lantang Tipo juga tentu harus menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman. Kemajuan teknologi informasi dan komunikasi seakan tak terbendung lagi. Kepraktisan dalam transaksi tentu menjadi hal yang dirindukan bagi sebagian besar orang termasuk anggota. Perubahan yang begitu cepat ini membuat lembaga CU Lantang Tipo secara bertahap melakukan penyesuaian guna memberi pelayanan yang baik kepada anggota. Mulai dari sistem yang berbasis online, Layanan IT, serta berbagai media sosial yang digunakan sebagai alat/media promosi kepada anggota dan masyarakat. Di era milenial ini, Credit Union harus lebih proaktif mengabarkan kebaikan CU kepada masyarakat, melalui media massa. Perkembangan yang begitu cepat tentu menjadi peluang sekaligus tantangan tersendiri bagi CU untuk selalu berbenah. Tantangan lain yaitu lembaga keuangan formal (bank) terus mengembangkan layanan keuangan mereka dengan memanfaatkan teknologi melalui personal agen hingga ke pelosok pedesaan, termasuk harus menyesuaikan diri dengan berbagai undang-undang dan peraturan pemerintah tentang koperasi. Di era milenial ini, para pengelola Credit Union harus dihadapkan dengan perubahan masyarakat serta pergeseran target pasar CU. Pengelola harus memahami teknologi informasi sesuai perkembangan global yang sejalan dengan visi dan misi Credit Union khususnya CU Lantang Tipo. Hal tersebut adalah agar CU dapat berkembang sesuai dengan tuntutan zaman namun tidak meninggalkan nilai-nilai dan prinsip-prinsip Credit Union. Pengaruh perkembangan yang begitu cepat membuat sebagian orang mungkin telah lupa dengan filosofi awal berdirinya CU. Oleh karena itu, Pengurus dan Pengawas mengusung tema “Menghayati Spirit dan Ideologi F.W. Raiffeisen Untuk Kesejahteraan Anggota Dalam Era Milenial” pada RAT CU Lantang Tipo Tahun Buku 2018. Harapannya anggota dapat kembali menghayati nilai-nilai dan prinsip-prinsip Credit Union. Tema tersebut diusung berawal dari kegiatan ACCU Forum yang diadakan di Manila, Filipina pada September 2018. Tema yang dimuat dalam kegiatan ACCU Forum tersebut adalah “Menyalakan Ideologi Reffeisen Dalam Setiap Insan Credit Union”. CEO CU Lantang Tipo, Elias Lanok, menyampaikan bahwa setiap insan koperasi atau CU harus menghayati spirit F.W. Raffeisen yang dimana kualitas hidup seseorang dapat tercermin dari hidup spiritualnya. Dalam spirit F.W. Raffeisen, seseorang harus bisa mandiri dan saling bergotong royong dengan orang lain agar dapat bersama-sama terlepas dari masalahnya. Keinginan kuat dari masing-masing orang yang mempunyai nasib sama tersebut harus merumuskan visi yang sama untuk keluar dari masalah yang serupa. Setelah keluar dari masalah yang sama maka mereka harus dapat melepaskan diri dari keinginan. “Perlu diketahui bahwa keinginan bukan merupakan kebutuhan” terang CEO CU Lantang Tipo. Caranya adalah melalui penghematan, ketekunan, dan kepedulian terhadap sesama. Sebagai mahkluk sosial, meskipun manusia dapat hidup mandiri tentu tidak terlepas dari peranan orang lain. Peran Credit Union yaitu, sebagai kendaraan bagi anggota untuk mencapai tujuan bersama. Elias Lanok menegaskan bahwa CU berperan memberdayakan anggota agar dapat menolong dirinya sendiri dengan cara menolong orang lain, sesuai dengan spirit F.W. Raffeisen. CU hadir tidak hanya fokus pada simpan dan pinjam saja, namun CU juga fokus pada pemberdayaan terhadap anggota, mengontrol penggunaan uang, dan memperbaiki nilai moral dan fisik setiap orang agar dapat mandiri. CU hadir dalam masyarakat membawa misi sosial yaitu memberdayakan anggota dengan adanya kegiatan solidaritas. Disamping itu juga membawa misi ekonomi dengan tujuan memperbaiki finansial anggota. (Kr)

Copyright 2011 By Culantangtipo.com. All Rights Reserved.
Contact Us : info@culantangtipo.com