Stepanus Usaha Dagang dan Kebun Sawit Matheus Candra Dawi Usaha Kebun Sawit MENJANGKAU ANGGOTA MELALUI SMS-TIPO Regina Ima Usaha Warung, Bengkel, dan Sedot Pasir Sudarman Usaha Kebun Lada dan Sembako
 
Satu jalan menuju kegagalan
Selasa, 17 Oktober 2017 | 15:14

Kali ini saya akan berbagi cerita. Besar harapan saya hal ini bisa menjadi ilmu yang berguna untuk kita bersama dalam meraih mimpi dan asa kita. Judul di atas mungkin agak sedikit nyeleneh atau anti mainstream. Biasa tulisan berisi motivasi; Bagaimana menjadi sukses, Bagaimana meraih kesuksesan bersama CU dan Bagaimana meraih kemakmuran. Mungkin bak berjalan kita sering menengadah ke atas, kali ini kita akan melihat kebawah. Perjalanan menuju sukses dan meraih kesuksesan tak sedikit terhadang kegagalan. Kali ini saya sedikit menguak dari diri kita sendiri tentang bagaimana menjadi orang gagal. Kita awali dengan sebuah cerita. Saya masih ingat ketika masih di usia remaja ibu saya sering menceritakan sebuah kisah yang menurut saya berguna bagi saya. Ceritanya seperti ini: Air sangat diperlukan oleh tubuh kita. Kita memerlukan air setiap hari dan ada standar yang harus kita lakukan. Minimal 3 Liter per hari. Namun apa jadinya ketika air yang seharusnya tadi kita minum dalam satu hari kita minum sekali teguk 3 liter atau lebih?. Kita bisa mati. Kemudian nasi atau makanan juga sangat berguna untuk memenuhi kebutuhan energi kita untuk melakukan kegiatan dan pekerjaan, jika dimakan sesuai takaran maka akan baik, namun jika berlebih juga tidak baik untuk kesehatan. Tak jarang kita mendengar ada orang yang mati karena kekenyangan. Jadi segala sesuatu yang baik sekalipun haruslah kita lakukan sesuai aturan agar yang kita dapat manfaatnya bukan kerugiannya. Baik minum dan makan di atas bertujuan untuk kita mencapai tujuan hidup, bekerja dan bergerak. Jika semua kita gunakan secara berlebihan tanpa mengukur kapasitas kamampuan kita maka hal tersebut menjadi masalah. Kita bisa sakit. Makan berlebih yang awalnya agar energi yang kita miliki cukup, namun kemampuan tubuh kita untuk mengolahnya belum cukup. Selanjutnya berat badan akan bertambah, harapan ingin berlari kencang malah berlaku sebaliknya, kita akan bergerak lambat. Jadi makan dan minum sesuai kebutuhan kita. Ketika sakit baru kita menyadari bahwa nasehat dan anjuran benar. Nah sahabat, begitu juga dengan pinjaman di Credit Union. Makanan dan minuman itu bak kredit atau pinjaman. Apa jadinya jika kita meminjam lebih besar dari kemampuan membayar yang kita punya. Meminjam dengan niat awal ingin sukses malah berlaku sebaliknya, kita akan berisiko menemui kegagalan. Jika kita meminjam atau berhutang lebih besar dari kemampuan kita, itu dinamakan indepthness atau hutang berlebih. Nah jika kita meminjam sudah diluar kemampuan kita, kita berisiko besar terkena sakit. Sakitnya berupa macet atau lalai. Niat kita ingin terus melangkah dan mencapai mimpi jadi gagal. Malahan barang yang ada akan terjual untuk mengobati sakit itu. Maka ketika kita meminjam tak jarang kita disarankan atau diingatkan oleh analis atau karyawan, korwil, orang sekitar bahkan istri, suami dan anak-anak untuk menurunkan jumlah pengajuan, menunda untuk meminjam dan memberi saran untuk menyelesaikan kewajiban dan cukup mengelola uang yang ada dulu dan lain lain. Nah,tak jarang kita merasa risih dengan saran-saran itu, kita merasa di atur, merasa tidak dipercaya dan merasa bahwa kita ini disepelekan. Jika kondisi seperti ini, pinjaman tidak diberikan karena analis menyayangi anggota agar pinjaman yang diberikan tidak membuat anggota sakit dan terbeban. Nah para pembaca sekalian, begitu juga dengan makan tadi, kita menyesal dan menyadari bahaya makan berlebih ketika kita sudah sakit. Jika belum maka kita akan selalu menganggap anjuran atau larangan itu sebagai keusilan orang lain terhadap kehidupan kita. Begitu juga dengan pinjaman. Selama saya mendampingi anggota yang bermasalah, hampir sebagian besar mengaku mengabaikan nasehat dan saran dari standar yang sudah ditetapkan. Ketika sudah bermasalah pinjaman baru kita menyesali namun semua sudah terlambat. Mari kita mulai dari diri kita untuk mulai jujur mengukur sendiri kemampuan kita. Pinjaman berlebih bukan membawa kita kepada kesuksesan namun sebaliknya. Jadi satu jalan menuju kegagalan adalah hutang atau pinjaman berlebih. Mari kita mengukur kemampuan kita secara benar sebelum kita meminjam. Cerdas mengelola uang maka hidup akan senang. (Dilham)

Copyright 2011 By Culantangtipo.com. All Rights Reserved.
Contact Us : info@culantangtipo.com