Agustinus Agun “CU ibaratkan kawan, kalau kita lupa dengan kawan maka kawan lupa dengan kita” Hasanto : “Saya bersyukur kalau CU yang saya pilih adalah yang terbaik untuk saya” Dampak Turunnya Harga TBS bagi Petani TRANSAKSI CEPAT DAN MUDAH MELALUI ATM Peletakan Batu Pertama Pembangunan Kantor KC Balai Berkuak, Anggota Respon Positif
 
Dampak Turunnya Harga TBS bagi Petani
Rabu, 26 September 2018 | 11:25

Pada bulan Juli 2018, PTPN XIII Kalimantan Barat terpaksa harus memberhentikan (PHK) karyawannya. Hal tersebut dikarenakan beberapa tahun ke belakang, PTPN XIII mencatat kinerja yang terus memburuk (bisnis.com). Tidak hanya sampai pada PHK Karyawan saja, namun yang sangat ditakuti adalah dampak selanjutnya. Para karyawan yang sebelumnya bekerja di perusahaan terpaksa harus mencari pekerjaan baru, bahkan kemungkinan ada yang menjadi pengangguran. Namun, yang paling merasakan dampak dari tutupnya pabrik PTPN XIII adalah para petani kelapa sawit. Dapat kita bayangkan nasib para petani yang menggantungkan hidupnya pada hasil kelapa sawit mereka. Tutupnya pabrik kelapa sawit membuat mereka kesulitan untuk menjual Tandan Buah Segar (TBS) dengan harga tinggi. Untuk sementara waktu dan mungkin bisa berlangsung lama, para petani kelapa sawit harus menjual TBS mereka ke beberapa penampung. Dapat kita perhatikan, saat ini para penampung TBS pun berkembang dengan begitu pesatnya. Hampir di setiap daerah yang mayoritas penduduknya adalah petani sawit, maka disana selalu ada penampung TBS. Turunnya harga TBS menjadi dilema bagi para petani kelapa sawit saat ini. Mau menjual ke pabrik dengan harga tinggi tetapi pabrik menutup sementara pembelian TBS. Meskipun ada pabrik yang menerima TBS, antriannya pasti panjang dan sangat lama. Sedangkan jika tidak dijual maka TBS dipastikan akan menyusut dan berujung busuk. Hal ini yang menyebabkan pendapatan petani tidak maksimal sehingga petani harus memilih menjual ke penampung TBS meskipun dengan harga di bawah harga beli pabrik. Pendapatan dari penjualan tersebut dapat dipastikan tidak lebih banyak daripada menjual langsung ke pabrik, belum lagi dipotong dengan biaya angkutan. Masalah tersebut tentu saja akan menjadi momok bagi para petani, sementara pihak perusahaan sendiri sedang memperbaiki keadaan yang ada. Perusahaan tentunya melakukan perbaikan aset, perbaikan keuangan, dan perbaikan sumber daya manusia (SDM). Anggota CU Lantang Tipo yang saat ini berjumlah 191.117 orang; 40,73% bekerja sebagai petani, mulai dari petani karet, kelapa sawit, lada, dan lain-lain. Nasib keberlangsungan hidup para petani tersebut tentu saja lebih banyak ditopang oleh hasil pertanian mereka. Dalam keadaan tersebut, bukan hanya petani kelapa sawit saja yang merasa kesulitan, namun petani karet dan lada tentu merasakan hal yang sama dikarenakan nilai beli dari hasil pertanian mereka juga belum bisa dikatakan tinggi. Menghadapi situasi tersebut, harapannya anggota dapat mensiasati dan mengelola dengan bijak keuangan mereka. Sebagai anggota tentunya kita sudah diajarkan hitung-hitungan pendapatan dan pengeluaran pada saat pendidikan dasar anggota. Bagi yang sudah berkeluarga, tentu harus mengatur keuangan keluarga sebaik mungkin, belum lagi ditambah dengan biaya anak sekolah dan keperluan mendadak lainnya. Oleh sebab itu, perlu rasanya sebagai anggota CU Lantang Tipo, kita tidak hanya berpendapatan atau berinvestasi pada satu jenis usaha saja, namun juga harus punya pendapatan dari jenis usaha kita yang lain, misalnya dengan beternak. Selain hal-hal yang disebutkan di atas, masih ada yang perlu kita perhatikan sebagai anggota CU Lantang Tipo yaitu hak dan kewajiban. Hak dan kewajiban sebagai anggota yaitu menabung, meminjam dan membayar pinjaman tepat waktu. Apabila anggota ingin meminjam maka harus disesuaikan dengan kemampuan membayar dan melalui prosedur yang berlaku di CU Lantang Tipo. Apabila pinjaman besar sedangkan kemampuan membayar kurang maka yang terjadi adalah anggota menjadi macet dalam membayar pinjaman. Dampaknya anggota menjadi gagal dalam ber-CU. Hal tersebut yang sebenarnya dihindari apabila melihat situasi seperti saat ini, terutama dengan harga komoditas tani yang merosot. CU Lantang Tipo tentu ingin memberi pinjaman kepada anggotanya agar anggota dapat berkembang. Namun tidak sedikit anggota yang menjadi gagal dalam ber-CU karena meminjam tidak sesuai dengan tingkat kemampuan membayar. Berbeda halnya dengan anggota yang mempunyai penghasilan tetap dan tidak terlalu terpengaruh pada situasi dan kondisi naik turunnya harga komoditas, pembayaran pinjaman bisa saja lancar. Walaupun demikian, CU Lantang Tipo tidak pernah membeda-bedakan anggotanya. Semua anggota memiliki hak dan kewajiban yang sama. Dalam mengajukan pinjaman, semua anggota melalui proses yang sama. Sesuai dengan slogannya \"CU LANTANG TIPO, SATU DAN SAMA\". (Kr)

Copyright 2011 By Culantangtipo.com. All Rights Reserved.
Contact Us : info@culantangtipo.com