Jelang Rapat Anggota Tahunan (RAT) CU Lantang Tipo Tahun Buku 2018 Tantangan Credit Union di Era Milenial Mempersiapkan Masa Depan dengan menabung di CU Lantang Tipo Kori Karolina: Tidak salah jika menabung, tetapi meminjam untuk usaha jauh lebih berguna Sura: Menjadi anggota karena ingin menyiapkan masa depan
 
Millennials dan Disruption
Jumat, 4 Januari 2019 | 10:28

Belakangan ini banyak perusahaan atau organisasi yang mulai menaruh perhatian terhadap generasi milenial. Siapa mereka dan mengapa banyak perusahaan sontak peduli dengan keberadaannya? Anda bisa dengan mudah mencari definisi dan usianya. Mereka yang disebut generasi milenial biasanya lahir antara tahun 1985-1994. Bahkan, beberapa definisi menyebut batasnya sampai 2004. Generasi ini sangat terkoneksi dengan internet dan media sosial. Kurang suka dengan informasi yang bersifat satu arah dan percaya dengan iklan. Mereka lebih percaya pada pengalaman atau review dari teman-temannya. Namun sangat mengedepankan happiness dalam bekerja, gemar traveling lintas negara, dan gadget mindset. Perusahaan yang masih mendefinisikan urusan manusianya dengan konsep human resource (HR) bakal kewalahan menghadapi generasi milenial. Sebaliknya, perusahaan yang memperlakukan karyawannya sebagai human capital akan menganggap generasi milenial sebagai aset dan penentu masa depan. Generasi milenial harus dirawat dan diberi kebebasan berkreasi. Generasi ini tak suka kompetisi. Sukanya kolaborasi. Kemudian, yang membuat banyak perusahaan takut adalah generasi ini bisa dengan enaknya bertanya, ”Dalam lima atau enam tahun lagi, apa posisi saya dan berapa gajinya?” Namun, yang jauh lebih penting dari ciri-ciri biologis atau stereotipe lainnya adalah generasi ini mulai diakui keberadaannya karena disruption yang mereka lakukan dan dampaknya terhadap dunia bisnis. Baiklah, supaya kita mempunyai pemahaman yang sama, saya definisikan dulu arti disruption ini. Sederhananya begini, disruption adalah perubahan untuk menghadirkan masa depan ke masa kini. Perubahan semacam itu biasanya mempunyai sekurang-kurangnya tiga ciri. Pertama, produk atau jasa yang dihasilkan perubahan ini harus lebih baik daripada produk/jasa sebelumnya. Anda boleh memberikan catatan bahwa pengertian ”lebih baik” ini bisa relatif, tetapi bisa juga absolut. Kedua, harga dari produk/jasa hasil disruption ini harus lebih murah ketimbang produk/jasa sebelumnya. Kalau harganya lebih mahal, untuk apa mereka melakukan disrupsi? Ketiga, produk/jasa yang dihasilkan proses disrupsi juga harus lebih mudah diakses atau didapat para penggunanya. Bukan sebaliknya, malah lebih susah dijangkau. Itulah tiga ciri dari proses disrupsi. Mengapa hasil karya generasi milenial tersebut menjadi begitu ditakuti para pengelola bisnis konvensional atau incumbent? Sebab, keberadaan produk/jasa buatan generasi milenial bakal memangkas bisnis-bisnis yang dikelola perusahaan-perusahaan konvensional, seperti yang dialami industri layanan taksi atau perhotelan. Ke depan, proses disrupsi tak akan berhenti sampai di situ. Banyak pengelola TV swasta yang mulai cemas karena generasi milenial tak lagi menonton TV. Mereka lebih suka streaming atau menyaksikan tayangan-tayangan di YouTube. Mereka bosan dengan acara TV yang ”satu arah” dan tidak memberikan kesempatan bagi para milenial untuk berinteraksi atau memilih program. Apa jadinya kalau acara-acara TV yang mereka tayangkan lebih banyak ditonton asisten rumah tangga, bukan oleh majikan, dan terutama anak-anaknya? Diperkirakan banyak pengiklan yang bakal mempertimbangkan untuk beriklan di media televisi. Di bisnis perbankan, kehadiran perusahaan-perusahaan financial technology (fintech) yang digagas generasi milenial ini mulai mengancam banyak bank. Begitu pula bisnis ritel. Saat ini bisnis online store terus meningkat dan disukai anak-anak muda, yang notabene merupakan pasar masa depan. Lebih jauh lagi, para disruptor itu dikelola kaum muda, the millennials. Dalam industri pariwisata, milenial travelers terus bertambah jumlahnya. Mereka lebih suka dilayani jasa-jasa perjalanan wisata yang berbasis aplikasi, bukan konvensional. Itulah disruption yang terus terjadi di depan mata kita. Perubahan yang dipicu generasi milenial tersebut belum akan berhenti. Mereka memang miskin pengalaman, tetapi tak punya rasa takut untuk menjelajahi masa depan yang unclear, unpredictable, dan uncertain. Berbeda dengan generasi di atasnya yang kaya pengalaman, tapi lebih senang menjelajah rutin dan segala yang sudah klir dan certain. Disruption ibarat bola salju, masih akan terus bergulir dan kian lama kian besar. Kalau Anda menunggu sampai kapan, atau menganggap perubahan seperti itu akan ada batasnya, salah besar. Sebab, perubahan semacam itu, kalau sudah bergulir, batasnya adalah langit alias tanpa batas. Sumber: https://pendidikan.id/news/milenial-dan-disruption/

Copyright 2011 By Culantangtipo.com. All Rights Reserved.
Contact Us : info@culantangtipo.com