Desa Gunung Tamang, Warga Gunakan Hadiah Kampung Berprestasi Untuk Perbaiki Jembatan Kisah Bunga Mawar dan Pohon Bambu Meskipun Kurang Populer, CU Lantang Tipo di Kecamatan Noyan tetap Menjadi Pilihan Masyarakat “Pelayanan dan Kejujuran Akan Membawa Rezeki serta Kebaikan dalam Keluarga dan Masyarakat” Simpanan Tabing Untuk Melengkapi Kebutuhan Anggota
 
Simpanan Tabing Untuk Melengkapi Kebutuhan Anggota
Rabu, 20 Maret 2019 | 15:46

Credit Union lahir dilatarbelakangi oleh krisis ekonomi akibat gagal panen yang dialami oleh masyarakat di Jerman pada tahun 1846-1847. Terjadi musibah kelaparan dan musim dingin yang begitu hebat pada saat itu. Salah seorang pejabat lokal setempat yang bernama Henry Wolff, menggambarkan kondisi para petani saat itu seperti “Dunia Tak Berpengharapan”. Miskin tak berdaya dan pertanian berantakan. Seorang walikota Flammersfield di Jerman bernama Friedrich Wilhelm Raiffeisen berusaha mencari cara untuk membantu warganya yang dilanda kemiskinan. Berbagai usaha pun dicoba mulai dari mengumpulkan para pengusaha, kaum kaya, dan dermawan untuk mengumpulkan uang dan diberikan kepada orang yang kurang mampu untuk modal membuka usaha. Namun usaha tersebut tidak berhasil, orang-orang miskin malah semakin tidak bisa mengendalikan penggunaan uang yang diberikan. Para pengusaha, kaum kaya, dan dermawan tidak mau lagi memberikan uang. Namun Raiffeisen tidak patah semangat, ia kemudian mendirikan pabrik roti dengan harapan dapat menolong orang miskin dikotanya. Roti tersebut dijual dengan harga yang murah kepada orang yang tidak mampu. Raiffeisen juga mendirikan perkumpulan yang bertugas meminjamkan uang kepada kaum miskin agar dapat membeli roti. Namun hal itu juga tidak dapat menyelesaikan masalah karena “hari ini diberi, besok sudah habis”. Akhirnya ia mengganti pendekatan dari pendekatan derma dan belas kasihan dengan prinsip menolong diri sendiri. Menurut Raiffeisen bahwa ada hubungan antara kemiskinan dan ketergantungan. Untuk menghapus kemiskinan, seseorang harus melawan ketergantungannya. Ia kemudian mempopulerkan formula tiga S, yaitu Self-Help (Menolong Diri), Self-Governance (Memerintah Sendiri), dan Self-Responsibility (Bertanggungjawab Sendiri). Ternyata pendekatan tersebut sukses. Tahun 1864 Friedrich Wilhelm Raiffeisen mendirikan sebuah organisasi baru bernama “Heddesdorfer Credit Union” dimana kebanyakan anggotanya adalah para petani. Untuk menjadi anggota, seseorang harus berwatak baik, rajin, dan jujur. Untuk mengetahuinya, para tetangga harus memberikan rekomendasi. Kegiatannya mirip arisan, mengumpulkan sejumlah uang lalu meminjamkannya kepada anggota yang memerlukan. Sejak saat itu lahirlah sebuah perkumpulan dengan dasar kepercayaan antara satu dengan yang lain, dimana uang yang dipinjamkan untuk memenuhi kebutuhan tersebut harus dikembalikan untuk membantu anggota lain. Dari perkumpulan tersebut lahirlah Credit Union, atau yang lebih kita kenal dengan sebutan CU, yang akhirnya masuk ke Indonesia. Menjadi anggota CU berarti kita siap untuk manjadi pelayan. Melalui pelayanan yang diberikan maka orang akan merasa diperhatikan. Kemudian, siapa yang harus kita layani ketika menjadi anggota CU? Sebagai anggota, kita berhak untuk melayani anggota lainnya. Untuk menolong diri kita sendiri maka kita terlebih dahulu harus menolong orang lain. Prinsip itu pula yang dibawa oleh F.W. Raiffeisen untuk menolong orang-orang kecil dan kurang mampu dalam ekonomi. Sehingga tak elok rasanya apabila menjadi anggota CU hanyalah untuk menabung saja tanpa meminjam. “Apabila hanya menabung artinya kita tidak perlu menjadi anggota CU”, pernyataan ini yang disampaikan oleh Pak E. Acang, salah satu pionir pendiri CU Lantang Tipo, dalam RAT TB 2018. Demikian juga sebaliknya, jika hanya ingin meminjam tanpa mau mengembalikan maka yang terjadi hanyalah membuat anggota lain merasa dirugikan karena uang yang dipinjam adalah uang bersama. Oleh sebab itu, menjadi anggota CU, hak dan kewajiban sebagai anggota harus diketahui dan menjadi perhatian. Tugas dari Pengurus, Pengawas, dan Manajemen adalah memastikan anggota mendapatkan pelayanan yang baik, dan memastikan bahwa lembaga CU Lantang Tipo tetap berada pada kendali yang benar. Apabila kita melihat perkembangan anggota CU Lantang Tipo, maka semakin tahun semakin bertambah. Hal ini tentu karena semakin banyak masyarakat yang menyadari akan pentingnya ber-CU. Namun dengan semakin banyaknya anggota, tentu setiap anggota mempunyai prinsip dan sifat yang berbeda. Hal ini yang kemudian biasanya membuat terjadi perubahan pada kebijakan yang ditetapkan oleh Pengurus. Tentunya perubahan tersebut dibuat dengan mempertimbangkan berbagai hal salah satunya adalah keberlangsungan anggota dan tata kelola yang baik terhadap lembaga. Pada tahun 2019 ini, Pengurus menetapkan kepada seluruh anggota tanpa terkecuali bahwa yang memiliki simpanan muhunt lebih dari 50 juta rupiah wajib memiliki rekening Tabing. Pertimbangannya adalah dengan adanya Tabing maka anggota akan lebih mudah untuk menikmati jasa simpanannya tanpa harus mengendapkannya di simpanan Tipo. Begitu juga dengan proses transaksi pencairan kredit, dengan adanya Tabing tentu akan mempermudah proses pencairan kredit melalui Tabing anggota. Selain itu Tabing juga berfungsi untuk proses penggunaan layanan ATM dan Autodebet. Kebijakan tersebut tentu akan menimbulkan pro dan kontra diantara anggota. Menurut Gianto (Anggota KC Utama) kebijakan tersebut tentu akan menimbulkan tanggapan berbeda-beda dari anggota. “Saya sebenarnya setuju apabila jasa simpanan tetap disimpan di Tipo karena saham saya akan bertambah, tetapi sebagai anggota saya juga menghargai keputusan dari CU dengan diterapkannya aturan tersebut” terang Gianto. Kebijakan tersebut merupakan suatu keputusan dimana tujuannya adalah agar CU Lantang Tipo dapat selalu hadir untuk anggota sehingga menjadi Credit Union yang sehat dan tepercaya bagi masyarakat. (Kr)

Copyright 2011 By Culantangtipo.com. All Rights Reserved.
Contact Us : info@culantangtipo.com